Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Ary, guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah, gunung dan matahari. Kadangkala ada tambahan gubuk, kerbau dan burung atau pohon kelapa. Tapi hanya itu.
Selama 20 tahun dia mengajar, menghadapi 20 angkatan murid, tapi hasilnya sama,. Dia jadi kesel, lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Semua anak diberi angka lima.
Anak-anak mengadu. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah.
“Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?”
Ary, guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. Itu yang dia tunggu-tunggu.
“Sebenarnya begini Bu, :”kata Ary menumpahkan perasaannya, “sejak saya mulai mengajar di sini, gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ternyata tidak ada perkembangannya. Dari dulu sampai sekarang, sama saja.. Sejak listrik belum masuk, ke desa kita ini, sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer, yang digambar tetap itu-itu saja. Tidak berkembang. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!”
Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru, hanya menanggapi sambil lalu.
“Sudahlah Pak Ary, biar saja. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Itu juga sudah bagus.”
‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya.”
“Maksud Pak Ary?”
“Ya sekarang kan sudah zaman reformasi, Bu. Sudah banyak perubahan. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Harga bensin naik. Banyak korupsi. Ada isu pemanasan global. Ada pilkada. Kerusuhan di mana-mana …….”
“Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung.”
“Nah itu dia, Bu. Mestinya kan itu yang digambar.”
Ibu Direktur mengangguk.
“Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas, supaya melihat kenyataan.”
“Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall.”
“Terus!”
“Tapi yang digambar sawah lagi, sawah lagi. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Semua sudah jadi perumahan dan mall.”
Ibu Kepala Sekolah tercengang.
“O ya?”
“Ya!”
“Coba mana gambar-gambarnya?”
Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Setelah dilihat satu per satu, Ibu Kepala Sekolah tercengang. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah, gunung dan matahari.
Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Mereka berdiri di sepanjang pintu, memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Aneh sekali. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Belum ada real estate. Burung bangau waktu itu masih banyak. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi.
“Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah,”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. “Mereka kebanyakan anak petani, jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Kalau mereka menggambar begini, saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur, Pak Ary. Betul tidak?”
Ary tersenyum sinis.
“Maaf, Bu. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah.”
“Betul. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Ini adalah hasil percakapan itu. Saya kira ini baik sekali. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme, cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Dan sebagai guru wajib kita mengerti.”
Ary ingin membantah, tetapi guru-guru lain mendukung.
“Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini, Pak Ary. Saya dapat ide bagus. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang, dipamerkan di dinding sekolah, pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini.”
“Tapi Bu, saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu.”
“Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!”
“Maaf. Bu,”
“Jangan membantah. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!”
Guru-guru lain langsung bertindak. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya, untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota, kandas. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah, gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu.
Sehari sebelum tamu datang, semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tetapi malamn-malam, semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Ibu kepala Sekolah puny aide baru.
“Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Hati saya langsung terketuk, teringat kepada masa lalu. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam, sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Saya minta malam ini juga, lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor, sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!”
Semua guru tercengang. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Dengan bergairah kemudian gambar sawah, gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. Pak Ary pun terpaksa ikut.
Ketika tamu dari Diknas Pusat datang, muka Pak Ary kelihatan muram. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat, dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah, sementara ia sendiri dan murid-,muriod serta guru lain menunggu di luar.
Setengah jam kemudian para tamu keluar. Mereka mengangguk senang. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat.
“Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat, masih bisa dipergunakan. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!”
Semua bertepuk tangan gembira. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal.
“Jadi menurut hemat kami, “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya, ” kira sampai 5 tahun ke depan, gedung sekolah ini masih layak pakai, masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!”
Ibu Kepala Sekolah terkejut. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tapi waktu dia melirik ke koridor, hatinya menjerit. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu, berantakan diinjak-injak. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Sabtu, 03 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzieb
A. Azis Masyhuri
A. Dahana
A. Mustofa Bisri
A. Muttaqin
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S Laksana
Aan Frimadona Roza
Aang Fatihul Islam
Abd. Rahman Mawazi
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurrahman Wahid
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adhy Rical
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adin
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afnan Malay
AG. Alif
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan MN
Agung Poku
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus Himawan
Agus R. Subagyo
Agus Salim
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Naufel
Ahmad Sahal
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Alang Khoiruddin
Alex R Nainggolan
Alfred Tuname
Ali Irwanto
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alvi Puspita
Amandus Klau
Amel
Amien Kamil
Anam Rahus
Andaru Ratnasari
Andong Buku #3
Angela
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Ari Pahala Hutabarat
Arie MP Tamba
Arif Bagus Prasetyo
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Juanda
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Astrid Reza
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Awan Abdullah
Ayi Jufridar
Azyumardi Azra
B Sugiharto
Badrut Tamam
Bagja Hidayat
Bahrul Ulum A. Malik
Bakdi Soemanto
Balada
Bambang kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Baskara T Wardaya SJ
Bayu Agustari Adha
Bayu Ambuari
Beni Setia
Benny Arnas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Berto Tukan
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonnie Triyana
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiarto Shambazy
Buldanul Khuri
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chandra Iswinarno
Cover Buku
D. Zawawi Imron
Dadan Sutisna
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danang Probotanoyo
Danarto
Daniel Paranamesa
Dareen Tatour
Darju Prasetya
Darma Putra
Darwis Rifai Harahap
Dayat Hidayat
Dede Kurniawan
Deepe
Denny JA
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dhewi Susanti
Dian Hartati
Diana AV Sasa
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djunaedi Tjunti Agus
Doan Widhiandono
Doddy Hidayatullah
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Dr Junaidi
Dr. Simuh
Dwi Cipta
Dwi Pranoto
Dwi Wahyu Handayani
Dwicipta
Dyah Ratna Meta Novi
Edeng Syamsul Ma’arif
Eduard Tambunan
Edy Firmansyah
Edy Sartimin
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Endhiq Anang P
Endi Biaro
Esai
Eva Dwi Kurniawan
Evan Ys
Evi Idawati
Evieta Fajar
F Rahardi
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faisal Syahreza
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatmin Prihatin Malau
Fauzan Al-Anzhari
Fenny Aprilia
Festival Gugur Gunung
Fikri. MS
Firdaus Muhammad
Fransiskus Nesten Marbun ST
Franz Kafka
Free Hearty
Furqon Abdi
Gde Artawan
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunoto Saparie
Gus Noy
H. Rosihan Anwar
Hadi Napster
Halim HD
Hamdy Salad
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasanudin Abdurakhman
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hastho Suprapto
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendra Sugiantoro
Hendriyo Widi
Henry H Loupias
Heri CS
Heri Latief
Herman Hasyim
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Hesma Eryani
Hikmat Gumelar
Hilyatul Auliya
Hudan Hidayat
Hujuala Rika Ayu
Humam S Chudori
I Nyoman Suaka
I Nyoman Tingkat
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idha Saraswati
Idris Pasaribu
Igk Tribana
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Q. Moehiddin
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian koto
Inggit Putria Marga
Irman Syah
Isbedy Stiawan ZS
Ismi Wahid
Istiqomatul Hayati
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Komindo
Iwan Kurniawan
J. Sumardianta
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jenny Ang
Jihan Fauziah
Jimmy Maruli Alfian
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf A.N
Kalis Mardi Asih
Karkono
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Khawas Auskarni
Khoirur Rizal Umami
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kusno
Kuswaidi Syafi’ie
L.N. Idayanie
Laksmi Pamuntja
Lan Fang
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lies Susilowati
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
LP3M Universitas Jember
Lukman Asya
Lutfi Mardiansyah
M Arman AZ
M Hari Atmoko
M. Dhani Suheri
M. Faizi
M. Haninul Fuad
M. Ikhsan
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marlin Bato
Martin Aleida
Marwanto
Maryati
Mas Ruscitadewi
Mashuri
Maya Azeezah
Media: Crayon on Paper
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Menggalang Dana Amal
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Mestika Zed
Michael Gunadi Widjaja
Michael Ondaatje
Mihar Harahap
Mikhael Dua
Mila Novita
Misbahus Surur
Misranto
Moch. Faisol
Moh. Asy'ari Muthhar
Muh Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Farhand Muzakki
Muhammad Ghufron
Muhammad Hidayat
Muhammad Marzuki
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammad Yulius
Muhammadun A.S.
Muhibin AM
Muhidin M Dahlan
Mulyadi SA
Munawir Aziz
Mursai Esten
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nanang Fahrudin
Nanang Suryadi
Naskah Monolog
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nissa Rengganis
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Novelet
Novianti Setuningsih
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nunung Nurdiah
Nunuy Nurhayati
Nur Ahmad Salman H
Nur Cholish Zaein
Nur Faizah
Nur Hidayati
Nuraz Aji
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurul Anam
Nuryana Asmaudi SA
Ode Barta Ananda
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pameran Lukisan
Pamusuk Eneste
Pandu Radea
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Priyambodo RH
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Puji Santosa
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Dachroni
R. Timur Budi Raja
Rachmat H Cahyono
Radhar Panca Dahana
Rahmi Hattani
Rainer Maria Rilke
Rakai
Rakhmat Giryadi
Rama Prabu
Ramadhan Batubara
Rambuana
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Rida Wahyuningrum
Ridwan Munawwar
Rilla Nugraheni
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rosdiansyah
Rosidi
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rz. Subagyo
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Saripuddin Lubis
Sastra Pemberontak
SastraNESIA
Sastri Bakry
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selo Soemardjan
Senggrutu Singomenggolo
Seni Rupa
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Si Burung Merak
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Sjaiful Masri
Sjifa Amori
SLG STKIP PGRI Ponorogo
Soeharto
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Fitri Ana
Sri Wintala Achmad
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sugeng Satya Dharma
Sujiwo Tejo
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Suseno
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutirman Eka Ardhana
Suwandi Adisuroso
Suyadi San
Switzy Sabandar
Syah A. Lathief
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syifa Aulia
Sylvianita Widyawati
Tamrin Bey
Tan Malaka
TanahmeraH ArtSpace
Taofik Hidayat
Taufik Alwie
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh LR
Teguh Pamungkas
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Timur Sinar Suprabana
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Tosa Poetra
Toto Gutomo
Tri Wahono
Triyanto triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Ulfatin Ch
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Utami Widowati
Veven Sp. Wardhana
W Haryanto
W.S. Rendra
Wandi Barboy Silaban
Wanitaku-wanitaku
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Wayan Supartha
Wendi
Wildan Nugraha
Wishnubroto Widarso
Wong Wing King
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanto le Honzo
Yasraf Amir Piliang
Yeni Mulyani
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yuli Akhmada
Yulia Sapthiani
Yuliarsa
Yunanto Sutyastomo
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar