Sabtu, 03 Januari 2009

DOKTOR BIOLOGI YANG JADI SASTRAWAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Profesi sastrawan di Indonesia, barangkali termasuk profesi yang unik. Taufik Ismail dan Asrul Sani, misalnya, adalah dokter hewan yang kiprahnya justru menonjol lantaran profesi kesastrawanannya. Putu Wijaya adalah sarjana hukum yang selain tak pernah menempelkan gelar di belakang namanya, juga popularitas dan aktivitasnya lebih banyak berurusan dengan kesusastraan. Demikian juga, sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah guru yang kemudian lebih banyak menekuni bidang sastra.

Sesungguhnya masih banyak kasus sejenis yang dapat kita kemukakan dengan menyebut sejumlah nama lain dari para sastrawan kita. Hal ini juga menunjukkan bahwa profesi sastrawan dapat dimasuki siapa saja dengan latar belakang pendidikan apa pun. Yang penting, sejauh mana pengabdiannya di bidang sastra memberi sumbangan berarti bagi pemerkayaan batin para pembacanya dan bagi perkembangan kesusastraan itu sendiri. Dalam kesusastraan di negara mana pun, tidak sedikit sastrawan yang pendidikannya seolah-olah tidak ada hubungannya dengan sastra. Padahal, justru dengan bekal pendidikan itu, apa pun bidang ilmunya, seseorang punya bekal yang baik untuk menjadi sastrawan yang berhasil.

Di antara sastrawan Indonesia yang profesinya seperti tersebut di atas itu, di dalamnya termasuklah nama Wildam Yatim. Sastrawan kelahiran Padangsidempuan, 11 Juli 1933 ini adalah sarjana biologi. Barangkali, awalnya ia tidak bercita-cita menjadi sastrawan. Oleh karena itu, selepas SMA ia melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Biologi dan lulus tahun 1961. Mula-mula ia bekerja sebagai asisten dosen Zoologi ITB (1956--1960). Setelah lulus, ia menjadi dosen biologi di Fakultas Kedokteran dan beberapa fakultas di lingkungan Universitas Andalas, Padang yang menyelenggarakan kuliah biologi (1961--1965). Pada tahun 1966, ia pindah ke Bandung dan menjabat Kepala Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) (1966--1974). Pada tahun 1981, ia berhasil menyelesaikan pendidikan lanjutannya (Post-Graduate Studies on Medical Sciences) di Hongkong University dan kemudian kembali lagi mengajar di Unpad. Dari Unpad pula, tahun 1988, Wildam memperoleh gelar doktor untuk bidang biologi. Sampai sekarang ia tercatat sebagai dosen biologi di Unpad.

Bagaimana asal mulanya sarjana biologi ini bisa menjadi salah seorang sastrawan penting Indonesia? Rupanya, sejak lulus SMP Lubuk Sikaping (1951) ia sudah mulai gemar menulis dan itu dilanjutkannya sewaktu ia bersekolah di SMA Widyasana Jakarta (1954). Dan yang mendorong kegemarannya menulis itu tidak lain adalah kebiasaannya membaca, termasuk di dalamnya membaca karya-karya asing. Sudah sejak SMA pula, Wildam menerjemahkan cerpen-cerpen sastrawan Amerika, Inggris, Perancis dan Rusia yang kemudian dipublikasikan di berbagai media massa. Pada tahun 1952, sebuah cerpen karyanya sendiri dimuat di majalah Sunday Courier. Suratkabar lainnya yang pernah memuat cerpennya, di antaranya Pedoman Minggu dan Pikiran Rakyat.

Ketika menjadi mahasiswa, Wildam menyalurkan kegemarannya menulis itu lewat majalah yang ada di kampusnya. Pada tahun 1958, ia ikut mengelola majalah Scientia dan menjadi pemimpin redaksi majalah itu. Ia juga tercatat sebagai salah seorang redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia (edisi Jawa Barat). Seperti kebanyakan mahasiswa, ia pun pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Selain pernah tercatat sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia juga pernah menjabat Wakil Ketua KASI, Bandung, ketika aksi-aksi mahasiswa sedang marak (1966--1968).

Kegiatan Wildam Yatim sebagai dosen, ternyata tidak mengurangi kegemarannya menulis, membaca, dan tentu saja penelitian yang berkaitan dengan biologi, bidang yang menjadi pekerjaannya. Karyanya yang berupa artikel ilmiah populer yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan biologi atau kedokteran, dipublikasikannya di sejumlah harian dan majalah, seperti Pikiran Rakyat, Intisari, Selecta atau di jurnal-jurnal ilmiah. Adapun buku-buku ilmiah yang pernah dihasilkannya, antara lain, Biologi (1974), Embryologi (1978), dan Genetika (1980).

Sementara karya-karya fiksinya, terutama cerpen dan novel, juga terus mengalir dari tangannya dengan prestasi yang cukup membanggakan. Cerpennya. “Surau Baru” berhasil memperoleh hadiah penghargaan dari majalah Horison (1969). Cerpennya yang lain, “Perburuan Penghabisan” juga memperoleh hadiah hiburan Sayembara Cerpen Majalah Horison (1977--1978).

Kedudukan dan popularitas Wildan Yatim makin mendapat sorotan selepas ia menghasilkan sebuah novel berjudul Pergolakan (Pustaka Jaya, 1974; Cet. II, 1977; Grasindo, 1992). Sebelum diterbitkan, novel ini berhasil meraih hadiah ketiga Sayembara mengarang roman yang diselenggarakan Panitia Tahun Buku Internasional, DKI Jakarta, tahun 1972. Pada tahun 1975, novel ini meraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud.

Bahwa novel ini memperoleh penghargaan seperti itu, niscaya di dalamnya ada sesuatu yang menonjol. Paling tidak, ia mempunyai kelebihan yang mungkin tak dimiliki novel lain yang terbit pada tahun itu. Memang, secara tematis, novel itu menyodorkan persoalan yang cukup kompleks. Ada trauma akibat pemberontakan PRRI/Permesta, ada pula teror dan intrik politik PKI, dan dalam suasana konflik ideologis seperti itu, muncul pula Guru Salam, tokoh utama novel itu, yang ingin mengembalikan ajaran Islam yang murni. Ia harus berhadapan dengan para ulama ortodoks yang berusaha mempertahankan kemapanannya dengan berlindung di belakang nama agama.
***

Di dalam buku Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah (1988) yang disusun Ernst Ulrich Kratz, tercatat nama Wildam Yatim telah menghasilkan 18 buah prosa yang dimuat majalah Horison (13 cerpen), Budaja Djaja (tiga cerpen), Mahasiswa Indonesia (satu cerpen), dan majalah Femina (satu cerita bersambung). Sesungguhnya, buah tangan Wildam Yatim jauh lebih banyak dari yang dicatat Kratz. Buktinya, Wildam telah menghasilkan beberapa antologi cerpen. Di antaranya, Jalur Membenam (Jakarta: Litera, 1974), Saat Orang Berterus Terang (Jakarta: Pustaka Jaya, 1974), Di Muka Pintu (Bandung: Terate, 1975), Pertengkaran (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976), dan Selandang (Jakarta: Balai Pustaka, 1988).

Selain antologi cerpen, Wildam Yatim juga menghasilkan beberapa novel. Novel pertamanya, Pergolakan, telah menempatkannya sebagai sastrawan penting. Novel lainnya, Galau Meredam (1977), Petualangan Tam (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1979), Pondok di Balik Bukit (Jakarta: Pustaka Jaya, 1979), Meniti Sinar Senja (1981), Tak Ada Lagi Bayang-Bayang (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1981) dan novelet Hati Bernyanyi (1980) dan Mengarung Badai Hati (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1981).

Jika ada pertanyaan: Apa yang menonjol dan menjadi salah satu kekuatan dari karya-karya Wildam Yatim? Inilah komentar A. Teeuw atas novel Pergolakan karya Wildam Yatim. “Gayanya lebih bersifat deskripsi ketimbang erokasi, dan hal ini menampak juga dari kekayaannya dalam kosa kata ketimbang daya kreasi yang terungkap. Bagi para pembaca yang hanya paham terhadap bahasa Indonesia kewartawanan dan kantoran dari Jawa, bahasa Indonesia Wildam Yatim mungkin penuh dengan perbendaharaan kata yang aneh: bahasa Melayu Minangkabau sebelum perang masih tetap segar bugar di dalam karyanya itu.”

Pendapat Teeuw itu tentu saja tidak mesti secara serta-merta kita terima begitu saja. Sebab, jika karya-karya Wildam Yatim ini ditempatkan di dalam konteks warna lokal, maka justru dalam hal warna lokal itulah karya-karya Wildam Yatim menjadi sangat menonjol dan menempati kedudukannya yang khas. Bagaimanapun juga, dapat dipastikan bahwa sebagian besar sastrawan Indonesia dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan kultur etnik. Oleh karena itu, latar belakang kultural ini yang sebenarnya menjadi salah satu ciri khas khazanah sastra Indonesia.

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Sumatera dengan lingkungan kulturalnya yang didominasi suku Batak dan Minangkabau, tentu saja Wildam Yatim merasa lebih dekat dengan kultur itu dibandingkan dengan kultur Sunda atau Jawa. Oleh karena itu, jika karya-karya Wildam Yatim terasa begitu kuat mengangkat warna lokal Minangkabau dengan kosa kata Melayunya yang juga khas Minangkabau, justru dalam hal itulah karya-karya Wildam Yatim memperlihatkan kekuatannya.

Sayangnya, Wildam Yatim yang menulis disertasi doktornya berjudul “Efek Antifertilitas Gosipol dan Gula Berklor terhadap Tikus Wistar dan Implikasi Prospeknya sebagai Kontraseptif Pria” sampai kini belum juga memanfaatkan kepakarannya di biologi untuk kepentingan sastra. Jika saja, suatu saat ia menulis sebuah novel yang sarat dengan deskripsi biologis, sangat mungkin karyanya itu bakal menjadi science fiction yang mungkin juga bakal lebih dahsyat dari novel science fiction lainnya.
Barangkali memang begitu jika doktor biologi jadi sastrawan. Kita tunggu saja nanti!

*) Staf Pengajar FSUI, Depok.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzieb A. Azis Masyhuri A. Dahana A. Mustofa Bisri A. Muttaqin A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S Laksana Aan Frimadona Roza Aang Fatihul Islam Abd. Rahman Mawazi Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurrahman Wahid Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Sunjayadi Adek Alwi Adhy Rical Adi Marsiela Adian Husaini Adin Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afnan Malay AG. Alif Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan MN Agung Poku Agus Aris Munandar Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Himawan Agus R. Subagyo Agus Salim Agus Sri Danardana Agus Sulton AH J Khuzaini Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Naufel Ahmad Sahal Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Alang Khoiruddin Alex R Nainggolan Alfred Tuname Ali Irwanto Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alvi Puspita Amandus Klau Amel Amien Kamil Anam Rahus Andaru Ratnasari Andong Buku #3 Angela Anggraini Lubis Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Ari Pahala Hutabarat Arie MP Tamba Arif Bagus Prasetyo Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asep Juanda Asep Salahudin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Astrid Reza Atmakusumah Awalludin GD Mualif Awan Abdullah Ayi Jufridar Azyumardi Azra B Sugiharto Badrut Tamam Bagja Hidayat Bahrul Ulum A. Malik Bakdi Soemanto Balada Bambang kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Baskara T Wardaya SJ Bayu Agustari Adha Bayu Ambuari Beni Setia Benny Arnas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Berto Tukan BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonnie Triyana Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiarto Shambazy Buldanul Khuri Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chandra Iswinarno Cover Buku D. Zawawi Imron Dadan Sutisna Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danang Probotanoyo Danarto Daniel Paranamesa Dareen Tatour Darju Prasetya Darma Putra Darwis Rifai Harahap Dayat Hidayat Dede Kurniawan Deepe Denny JA Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dhewi Susanti Dian Hartati Diana AV Sasa Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djunaedi Tjunti Agus Doan Widhiandono Doddy Hidayatullah Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Dr Junaidi Dr. Simuh Dwi Cipta Dwi Pranoto Dwi Wahyu Handayani Dwicipta Dyah Ratna Meta Novi Edeng Syamsul Ma’arif Eduard Tambunan Edy Firmansyah Edy Sartimin Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Endhiq Anang P Endi Biaro Esai Eva Dwi Kurniawan Evan Ys Evi Idawati Evieta Fajar F Rahardi F. Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faisal Syahreza Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatmin Prihatin Malau Fauzan Al-Anzhari Fenny Aprilia Festival Gugur Gunung Fikri. MS Firdaus Muhammad Fransiskus Nesten Marbun ST Franz Kafka Free Hearty Furqon Abdi Gde Artawan Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunoto Saparie Gus Noy H. Rosihan Anwar Hadi Napster Halim HD Hamdy Salad Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Haris del Hakim Haris Firdaus Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Junus Hasanudin Abdurakhman Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hastho Suprapto Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendra Sugiantoro Hendriyo Widi Henry H Loupias Heri CS Heri Latief Herman Hasyim Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Hesma Eryani Hikmat Gumelar Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humam S Chudori I Nyoman Suaka I Nyoman Tingkat IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idha Saraswati Idris Pasaribu Igk Tribana Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Q. Moehiddin Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian koto Inggit Putria Marga Irman Syah Isbedy Stiawan ZS Ismi Wahid Istiqomatul Hayati Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Komindo Iwan Kurniawan J. Sumardianta Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jenny Ang Jihan Fauziah Jimmy Maruli Alfian Joko Sandur Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Paket Hemat Jusuf A.N Kalis Mardi Asih Karkono Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Khawas Auskarni Khoirur Rizal Umami Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kusno Kuswaidi Syafi’ie L.N. Idayanie Laksmi Pamuntja Lan Fang Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lies Susilowati Lily Yulianti Farid Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto LP3M Universitas Jember Lukman Asya Lutfi Mardiansyah M Arman AZ M Hari Atmoko M. Dhani Suheri M. Faizi M. Haninul Fuad M. Ikhsan M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marlin Bato Martin Aleida Marwanto Maryati Mas Ruscitadewi Mashuri Maya Azeezah Media: Crayon on Paper Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggalang Dana Amal Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mestika Zed Michael Gunadi Widjaja Michael Ondaatje Mihar Harahap Mikhael Dua Mila Novita Misbahus Surur Misranto Moch. Faisol Moh. Asy'ari Muthhar Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Farhand Muzakki Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammad Yulius Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mulyadi SA Munawir Aziz Mursai Esten Musa Ismail Musfi Efrizal Muslim Kasim Musyafak N Teguh Prasetyo N. Mursidi N. Syamsuddin CH. Haesy Nanang Fahrudin Nanang Suryadi Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Nirwan Ahmad Arsuka Nissa Rengganis Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Novelet Novianti Setuningsih Nu’man ’Zeus’ Anggara Nunung Nurdiah Nunuy Nurhayati Nur Ahmad Salman H Nur Cholish Zaein Nur Faizah Nur Hidayati Nuraz Aji Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurul Anam Nuryana Asmaudi SA Ode Barta Ananda Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pameran Lukisan Pamusuk Eneste Pandu Radea Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Priyambodo RH Prosa Pudyo Saptono Puisi Puji Santosa PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Dachroni R. Timur Budi Raja Rachmat H Cahyono Radhar Panca Dahana Rahmi Hattani Rainer Maria Rilke Rakai Rakhmat Giryadi Rama Prabu Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Rida Wahyuningrum Ridwan Munawwar Rilla Nugraheni Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rosdiansyah Rosidi Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rz. Subagyo S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Saripuddin Lubis Sastra Pemberontak SastraNESIA Sastri Bakry Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selo Soemardjan Senggrutu Singomenggolo Seni Rupa Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Si Burung Merak Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Sitor Situmorang Siwi Dwi Saputro Sjaiful Masri Sjifa Amori SLG STKIP PGRI Ponorogo Soeharto Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Fitri Ana Sri Wintala Achmad St Sularto Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Satya Dharma Sujiwo Tejo Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Suseno Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutirman Eka Ardhana Suwandi Adisuroso Suyadi San Switzy Sabandar Syah A. Lathief Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syifa Aulia Sylvianita Widyawati Tamrin Bey Tan Malaka TanahmeraH ArtSpace Taofik Hidayat Taufik Alwie Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh LR Teguh Pamungkas Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Th. Sumartana Theresia Purbandini Timur Sinar Suprabana Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Wahono Triyanto triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Ulfatin Ch Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Ballah Universitas Indonesia Universitas Jember Utami Widowati Veven Sp. Wardhana W Haryanto W.S. Rendra Wandi Barboy Silaban Wanitaku-wanitaku Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Wayan Supartha Wendi Wildan Nugraha Wishnubroto Widarso Wong Wing King Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanto le Honzo Yasraf Amir Piliang Yeni Mulyani Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yuli Akhmada Yulia Sapthiani Yuliarsa Yunanto Sutyastomo Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae