Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Profesi sastrawan di Indonesia, barangkali termasuk profesi yang unik. Taufik Ismail dan Asrul Sani, misalnya, adalah dokter hewan yang kiprahnya justru menonjol lantaran profesi kesastrawanannya. Putu Wijaya adalah sarjana hukum yang selain tak pernah menempelkan gelar di belakang namanya, juga popularitas dan aktivitasnya lebih banyak berurusan dengan kesusastraan. Demikian juga, sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah guru yang kemudian lebih banyak menekuni bidang sastra.
Sesungguhnya masih banyak kasus sejenis yang dapat kita kemukakan dengan menyebut sejumlah nama lain dari para sastrawan kita. Hal ini juga menunjukkan bahwa profesi sastrawan dapat dimasuki siapa saja dengan latar belakang pendidikan apa pun. Yang penting, sejauh mana pengabdiannya di bidang sastra memberi sumbangan berarti bagi pemerkayaan batin para pembacanya dan bagi perkembangan kesusastraan itu sendiri. Dalam kesusastraan di negara mana pun, tidak sedikit sastrawan yang pendidikannya seolah-olah tidak ada hubungannya dengan sastra. Padahal, justru dengan bekal pendidikan itu, apa pun bidang ilmunya, seseorang punya bekal yang baik untuk menjadi sastrawan yang berhasil.
Di antara sastrawan Indonesia yang profesinya seperti tersebut di atas itu, di dalamnya termasuklah nama Wildam Yatim. Sastrawan kelahiran Padangsidempuan, 11 Juli 1933 ini adalah sarjana biologi. Barangkali, awalnya ia tidak bercita-cita menjadi sastrawan. Oleh karena itu, selepas SMA ia melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Biologi dan lulus tahun 1961. Mula-mula ia bekerja sebagai asisten dosen Zoologi ITB (1956--1960). Setelah lulus, ia menjadi dosen biologi di Fakultas Kedokteran dan beberapa fakultas di lingkungan Universitas Andalas, Padang yang menyelenggarakan kuliah biologi (1961--1965). Pada tahun 1966, ia pindah ke Bandung dan menjabat Kepala Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) (1966--1974). Pada tahun 1981, ia berhasil menyelesaikan pendidikan lanjutannya (Post-Graduate Studies on Medical Sciences) di Hongkong University dan kemudian kembali lagi mengajar di Unpad. Dari Unpad pula, tahun 1988, Wildam memperoleh gelar doktor untuk bidang biologi. Sampai sekarang ia tercatat sebagai dosen biologi di Unpad.
Bagaimana asal mulanya sarjana biologi ini bisa menjadi salah seorang sastrawan penting Indonesia? Rupanya, sejak lulus SMP Lubuk Sikaping (1951) ia sudah mulai gemar menulis dan itu dilanjutkannya sewaktu ia bersekolah di SMA Widyasana Jakarta (1954). Dan yang mendorong kegemarannya menulis itu tidak lain adalah kebiasaannya membaca, termasuk di dalamnya membaca karya-karya asing. Sudah sejak SMA pula, Wildam menerjemahkan cerpen-cerpen sastrawan Amerika, Inggris, Perancis dan Rusia yang kemudian dipublikasikan di berbagai media massa. Pada tahun 1952, sebuah cerpen karyanya sendiri dimuat di majalah Sunday Courier. Suratkabar lainnya yang pernah memuat cerpennya, di antaranya Pedoman Minggu dan Pikiran Rakyat.
Ketika menjadi mahasiswa, Wildam menyalurkan kegemarannya menulis itu lewat majalah yang ada di kampusnya. Pada tahun 1958, ia ikut mengelola majalah Scientia dan menjadi pemimpin redaksi majalah itu. Ia juga tercatat sebagai salah seorang redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia (edisi Jawa Barat). Seperti kebanyakan mahasiswa, ia pun pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Selain pernah tercatat sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia juga pernah menjabat Wakil Ketua KASI, Bandung, ketika aksi-aksi mahasiswa sedang marak (1966--1968).
Kegiatan Wildam Yatim sebagai dosen, ternyata tidak mengurangi kegemarannya menulis, membaca, dan tentu saja penelitian yang berkaitan dengan biologi, bidang yang menjadi pekerjaannya. Karyanya yang berupa artikel ilmiah populer yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan biologi atau kedokteran, dipublikasikannya di sejumlah harian dan majalah, seperti Pikiran Rakyat, Intisari, Selecta atau di jurnal-jurnal ilmiah. Adapun buku-buku ilmiah yang pernah dihasilkannya, antara lain, Biologi (1974), Embryologi (1978), dan Genetika (1980).
Sementara karya-karya fiksinya, terutama cerpen dan novel, juga terus mengalir dari tangannya dengan prestasi yang cukup membanggakan. Cerpennya. “Surau Baru” berhasil memperoleh hadiah penghargaan dari majalah Horison (1969). Cerpennya yang lain, “Perburuan Penghabisan” juga memperoleh hadiah hiburan Sayembara Cerpen Majalah Horison (1977--1978).
Kedudukan dan popularitas Wildan Yatim makin mendapat sorotan selepas ia menghasilkan sebuah novel berjudul Pergolakan (Pustaka Jaya, 1974; Cet. II, 1977; Grasindo, 1992). Sebelum diterbitkan, novel ini berhasil meraih hadiah ketiga Sayembara mengarang roman yang diselenggarakan Panitia Tahun Buku Internasional, DKI Jakarta, tahun 1972. Pada tahun 1975, novel ini meraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud.
Bahwa novel ini memperoleh penghargaan seperti itu, niscaya di dalamnya ada sesuatu yang menonjol. Paling tidak, ia mempunyai kelebihan yang mungkin tak dimiliki novel lain yang terbit pada tahun itu. Memang, secara tematis, novel itu menyodorkan persoalan yang cukup kompleks. Ada trauma akibat pemberontakan PRRI/Permesta, ada pula teror dan intrik politik PKI, dan dalam suasana konflik ideologis seperti itu, muncul pula Guru Salam, tokoh utama novel itu, yang ingin mengembalikan ajaran Islam yang murni. Ia harus berhadapan dengan para ulama ortodoks yang berusaha mempertahankan kemapanannya dengan berlindung di belakang nama agama.
***
Di dalam buku Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah (1988) yang disusun Ernst Ulrich Kratz, tercatat nama Wildam Yatim telah menghasilkan 18 buah prosa yang dimuat majalah Horison (13 cerpen), Budaja Djaja (tiga cerpen), Mahasiswa Indonesia (satu cerpen), dan majalah Femina (satu cerita bersambung). Sesungguhnya, buah tangan Wildam Yatim jauh lebih banyak dari yang dicatat Kratz. Buktinya, Wildam telah menghasilkan beberapa antologi cerpen. Di antaranya, Jalur Membenam (Jakarta: Litera, 1974), Saat Orang Berterus Terang (Jakarta: Pustaka Jaya, 1974), Di Muka Pintu (Bandung: Terate, 1975), Pertengkaran (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976), dan Selandang (Jakarta: Balai Pustaka, 1988).
Selain antologi cerpen, Wildam Yatim juga menghasilkan beberapa novel. Novel pertamanya, Pergolakan, telah menempatkannya sebagai sastrawan penting. Novel lainnya, Galau Meredam (1977), Petualangan Tam (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1979), Pondok di Balik Bukit (Jakarta: Pustaka Jaya, 1979), Meniti Sinar Senja (1981), Tak Ada Lagi Bayang-Bayang (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1981) dan novelet Hati Bernyanyi (1980) dan Mengarung Badai Hati (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1981).
Jika ada pertanyaan: Apa yang menonjol dan menjadi salah satu kekuatan dari karya-karya Wildam Yatim? Inilah komentar A. Teeuw atas novel Pergolakan karya Wildam Yatim. “Gayanya lebih bersifat deskripsi ketimbang erokasi, dan hal ini menampak juga dari kekayaannya dalam kosa kata ketimbang daya kreasi yang terungkap. Bagi para pembaca yang hanya paham terhadap bahasa Indonesia kewartawanan dan kantoran dari Jawa, bahasa Indonesia Wildam Yatim mungkin penuh dengan perbendaharaan kata yang aneh: bahasa Melayu Minangkabau sebelum perang masih tetap segar bugar di dalam karyanya itu.”
Pendapat Teeuw itu tentu saja tidak mesti secara serta-merta kita terima begitu saja. Sebab, jika karya-karya Wildam Yatim ini ditempatkan di dalam konteks warna lokal, maka justru dalam hal warna lokal itulah karya-karya Wildam Yatim menjadi sangat menonjol dan menempati kedudukannya yang khas. Bagaimanapun juga, dapat dipastikan bahwa sebagian besar sastrawan Indonesia dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan kultur etnik. Oleh karena itu, latar belakang kultural ini yang sebenarnya menjadi salah satu ciri khas khazanah sastra Indonesia.
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Sumatera dengan lingkungan kulturalnya yang didominasi suku Batak dan Minangkabau, tentu saja Wildam Yatim merasa lebih dekat dengan kultur itu dibandingkan dengan kultur Sunda atau Jawa. Oleh karena itu, jika karya-karya Wildam Yatim terasa begitu kuat mengangkat warna lokal Minangkabau dengan kosa kata Melayunya yang juga khas Minangkabau, justru dalam hal itulah karya-karya Wildam Yatim memperlihatkan kekuatannya.
Sayangnya, Wildam Yatim yang menulis disertasi doktornya berjudul “Efek Antifertilitas Gosipol dan Gula Berklor terhadap Tikus Wistar dan Implikasi Prospeknya sebagai Kontraseptif Pria” sampai kini belum juga memanfaatkan kepakarannya di biologi untuk kepentingan sastra. Jika saja, suatu saat ia menulis sebuah novel yang sarat dengan deskripsi biologis, sangat mungkin karyanya itu bakal menjadi science fiction yang mungkin juga bakal lebih dahsyat dari novel science fiction lainnya.
Barangkali memang begitu jika doktor biologi jadi sastrawan. Kita tunggu saja nanti!
*) Staf Pengajar FSUI, Depok.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzieb
A. Azis Masyhuri
A. Dahana
A. Mustofa Bisri
A. Muttaqin
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S Laksana
Aan Frimadona Roza
Aang Fatihul Islam
Abd. Rahman Mawazi
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurrahman Wahid
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adhy Rical
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adin
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afnan Malay
AG. Alif
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan MN
Agung Poku
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus Himawan
Agus R. Subagyo
Agus Salim
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Naufel
Ahmad Sahal
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Alang Khoiruddin
Alex R Nainggolan
Alfred Tuname
Ali Irwanto
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alvi Puspita
Amandus Klau
Amel
Amien Kamil
Anam Rahus
Andaru Ratnasari
Andong Buku #3
Angela
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Ari Pahala Hutabarat
Arie MP Tamba
Arif Bagus Prasetyo
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Juanda
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Astrid Reza
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Awan Abdullah
Ayi Jufridar
Azyumardi Azra
B Sugiharto
Badrut Tamam
Bagja Hidayat
Bahrul Ulum A. Malik
Bakdi Soemanto
Balada
Bambang kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Baskara T Wardaya SJ
Bayu Agustari Adha
Bayu Ambuari
Beni Setia
Benny Arnas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Berto Tukan
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonnie Triyana
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiarto Shambazy
Buldanul Khuri
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chandra Iswinarno
Cover Buku
D. Zawawi Imron
Dadan Sutisna
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danang Probotanoyo
Danarto
Daniel Paranamesa
Dareen Tatour
Darju Prasetya
Darma Putra
Darwis Rifai Harahap
Dayat Hidayat
Dede Kurniawan
Deepe
Denny JA
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dhewi Susanti
Dian Hartati
Diana AV Sasa
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djunaedi Tjunti Agus
Doan Widhiandono
Doddy Hidayatullah
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Dr Junaidi
Dr. Simuh
Dwi Cipta
Dwi Pranoto
Dwi Wahyu Handayani
Dwicipta
Dyah Ratna Meta Novi
Edeng Syamsul Ma’arif
Eduard Tambunan
Edy Firmansyah
Edy Sartimin
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Endhiq Anang P
Endi Biaro
Esai
Eva Dwi Kurniawan
Evan Ys
Evi Idawati
Evieta Fajar
F Rahardi
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faisal Syahreza
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatmin Prihatin Malau
Fauzan Al-Anzhari
Fenny Aprilia
Festival Gugur Gunung
Fikri. MS
Firdaus Muhammad
Fransiskus Nesten Marbun ST
Franz Kafka
Free Hearty
Furqon Abdi
Gde Artawan
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunoto Saparie
Gus Noy
H. Rosihan Anwar
Hadi Napster
Halim HD
Hamdy Salad
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasanudin Abdurakhman
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hastho Suprapto
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendra Sugiantoro
Hendriyo Widi
Henry H Loupias
Heri CS
Heri Latief
Herman Hasyim
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Hesma Eryani
Hikmat Gumelar
Hilyatul Auliya
Hudan Hidayat
Hujuala Rika Ayu
Humam S Chudori
I Nyoman Suaka
I Nyoman Tingkat
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idha Saraswati
Idris Pasaribu
Igk Tribana
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Q. Moehiddin
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian koto
Inggit Putria Marga
Irman Syah
Isbedy Stiawan ZS
Ismi Wahid
Istiqomatul Hayati
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Komindo
Iwan Kurniawan
J. Sumardianta
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jenny Ang
Jihan Fauziah
Jimmy Maruli Alfian
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf A.N
Kalis Mardi Asih
Karkono
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Khawas Auskarni
Khoirur Rizal Umami
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kusno
Kuswaidi Syafi’ie
L.N. Idayanie
Laksmi Pamuntja
Lan Fang
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lies Susilowati
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
LP3M Universitas Jember
Lukman Asya
Lutfi Mardiansyah
M Arman AZ
M Hari Atmoko
M. Dhani Suheri
M. Faizi
M. Haninul Fuad
M. Ikhsan
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marlin Bato
Martin Aleida
Marwanto
Maryati
Mas Ruscitadewi
Mashuri
Maya Azeezah
Media: Crayon on Paper
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Menggalang Dana Amal
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Mestika Zed
Michael Gunadi Widjaja
Michael Ondaatje
Mihar Harahap
Mikhael Dua
Mila Novita
Misbahus Surur
Misranto
Moch. Faisol
Moh. Asy'ari Muthhar
Muh Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Farhand Muzakki
Muhammad Ghufron
Muhammad Hidayat
Muhammad Marzuki
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammad Yulius
Muhammadun A.S.
Muhibin AM
Muhidin M Dahlan
Mulyadi SA
Munawir Aziz
Mursai Esten
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nanang Fahrudin
Nanang Suryadi
Naskah Monolog
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nissa Rengganis
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Novelet
Novianti Setuningsih
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nunung Nurdiah
Nunuy Nurhayati
Nur Ahmad Salman H
Nur Cholish Zaein
Nur Faizah
Nur Hidayati
Nuraz Aji
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurul Anam
Nuryana Asmaudi SA
Ode Barta Ananda
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pameran Lukisan
Pamusuk Eneste
Pandu Radea
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Priyambodo RH
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Puji Santosa
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Dachroni
R. Timur Budi Raja
Rachmat H Cahyono
Radhar Panca Dahana
Rahmi Hattani
Rainer Maria Rilke
Rakai
Rakhmat Giryadi
Rama Prabu
Ramadhan Batubara
Rambuana
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Rida Wahyuningrum
Ridwan Munawwar
Rilla Nugraheni
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rosdiansyah
Rosidi
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rz. Subagyo
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Saripuddin Lubis
Sastra Pemberontak
SastraNESIA
Sastri Bakry
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selo Soemardjan
Senggrutu Singomenggolo
Seni Rupa
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Si Burung Merak
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Sjaiful Masri
Sjifa Amori
SLG STKIP PGRI Ponorogo
Soeharto
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Fitri Ana
Sri Wintala Achmad
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sugeng Satya Dharma
Sujiwo Tejo
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Suseno
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutirman Eka Ardhana
Suwandi Adisuroso
Suyadi San
Switzy Sabandar
Syah A. Lathief
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syifa Aulia
Sylvianita Widyawati
Tamrin Bey
Tan Malaka
TanahmeraH ArtSpace
Taofik Hidayat
Taufik Alwie
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh LR
Teguh Pamungkas
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Timur Sinar Suprabana
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Tosa Poetra
Toto Gutomo
Tri Wahono
Triyanto triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Ulfatin Ch
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Utami Widowati
Veven Sp. Wardhana
W Haryanto
W.S. Rendra
Wandi Barboy Silaban
Wanitaku-wanitaku
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Wayan Supartha
Wendi
Wildan Nugraha
Wishnubroto Widarso
Wong Wing King
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanto le Honzo
Yasraf Amir Piliang
Yeni Mulyani
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yuli Akhmada
Yulia Sapthiani
Yuliarsa
Yunanto Sutyastomo
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar