Michael Ondaatje
Pewawancara: Rilla Nugraheni
http://www.ruangbaca.com/
“Ketika kita menulis sesuatu, menemukan sebuah karakter menarik, kita akan dengan otomatis menemukan bangunan struktur cerita dan kita bebas memainkannya dalam alur yang kita kehendaki.”
MESKI bom baru saja meledak di Jimbaran dan Kuta pada 1 Oktober, sekitar seratus pengaran, sineas, seniman, dan tokoh budaya tetap datang dan mendukung Ubud Writers and Readers Festival II yang berlangsung di kampung seni Ubud, 6-11 Oktober.
Di antara mereka ada sejumlah pengarang asing, seperti Michael Ondaatje (Kanada) dan Amitav Ghosh (India), juga tamu istimewa festival ini: Presiden Timor Leste Xanana Gusmao dan istrinya, Kirsty Gusmao, beserta tiga anaknya.
Selain itu hadir pula sederet pengarang pengarang kenamaan Indonesia saat ini, seperti Ayu Utami, Azhari, Budi Darma, Cok Sawitri, Dewi Lestari, Joko Pinurbo, Nukila Akmal, Sitok Srengenge, dan Eka Kurniawan.
Selama empat hari para peserta intens mengikuti festival bertema “Between Worlds” yang diselenggarakan Yayasan Saraswati itu. Festival dipusatkan di Hotel Indus, Ubud, sama seperti festival pertama tahun lalu.
Namun, kegiatan disebar di beberapa tempat lain di Ubud, antara lain di Left Bank, Toko Toko, Murni’s Warung, Casaluna Cafe, Alila Hotel, ARMA Museum, dan Pondok Pekak’s.
Setiap harinya, ada sekitar 4-5 acara di setiap tempat, sehingga peserta mesti bolak-balik antara satu tempat ke tempat lainnya untuk bisa menikmati acara yang dikehendakinya. Tak jarang, ketika satu acara baru usai, peserta segera beranjak menuju ke acara lain.
Acara yang digelar, antara lain, diskusi seputar penulisan buku oleh beberapa penulis seperti Surat Cinta-nya Kirsty Gusmao dan Xanana yang berisi kisah romantisme mereka, pembacaan puisi, pasar malam, penayangan film, diskusi tentang dongeng anak-anak, diskusi penggarapan teen lit atau seri tulisan remaja, peluncuran buku, dan lain-lain.
Pada malam penutupan, tampillah pengarang pemenang hadiah Booker, Michael Ondaatje, membacakan sejumlah puisi dari kumpulan puisinya, The Cinnamon Peeler (l991) dan satu prosa dari memoarnya, Running in the Family (l982).
Selama festival, Ondaatje hadir dalam sejumlah panel diskusi dan acara makan siang santai untuk berbagi pengalamannya di dunia sastra. Di sela-sela acara festival, Ondaatje menerima Rilla Nugraheni dari Tempo untuk sebuah wawancara di Media Room Ubud Writter and Readers Festival, meski semula ia menolak, sebab wawancara ini tak ada dalam jadwalnya.
Wawancara ini berlangsung menyenangkan dan penuh tawa. Penulis kelahiran 12 September 1943 di Colombo, Ceylon (sekarang Sri Lanka) ini mengenakan kemeja biru tua dan celana panjang krem. Sesekali ia mengusap rambutnya yang putih dan mengelap keringat di dahinya. Berikut petikan wawancaranya.
Anda jadi terkenal sekarang?
Iya. Ha ha ha. Saya menikmati itu. Sekarang jadi lebih banyak wawancara, bergaul dengan orang-orang dari media massa yang tertarik dengan karya saya. Itu menyenangkan sekali. Ternyata ada dunia baru yang sebelumnya saya tidak begitu mengenalnya. Jurnalisme sangat menyenangkan. Mereka bertanya banyak hal, dan saya menjawabnya. Memang saya jadi kehilangan sedikit waktu privasi saya. Tapi, tidak masalah bagi saya. Karena gantinya saya mendapat pengalaman baru.
Apa komentar Anda tentang Bom Bali?
Apa yang harus saya katakan? Itu kan sudah terjadi. Saya kira itu bukan urusan saya. Bukan saya tak bersimpati dan berempati, tetapi saya tidak dalam kapasitas berkomentar.
Anda tidak takut menjadi salah satu korban misalnya?
Ha ha ha. Tidak. Lagi pula, kebetulan, saya tidak di Bali ketika itu terjadi. Itu menenangkan saya. Saya sempat ingin membatalkan (kedatangan ke sini), tapi lalu saya pikir, buat apa. Ya, bolehlah sedikit saya khawatir. Tetapi, saya kira saya belum waktunya. Ha ha ha. Tapi, saya sedih ya dengan kejadian semacam itu. Banyak pendapat yang menyudutkan kelompok Islam yang melakukannya.
Itu mempengaruhi pandangan terhadap Islam?
Ya. Sedikit banyak pasti berpengaruh. Saya yakin itu. Tapi, dalam Islam, saya yakin tak ada itu teroris dalam agama. Tapi, saya setuju, Al-Qaidah is big enemy.
Terlintas ingin menulis buku tentang tragedi bom?
Belum. Tapi, suatu saat mungkin. Saya tidak tahu. Saya tak pernah merencanakan menulis buku. Semua ada begitu saja dalam kepala dan saya melakukan observasi.
Termasuk ketika menulis The English Patient?
Ya, saya melakukan sedikit observasi di lapangan. Saya juga memang memiliki pengalaman ketika sakit di rumah sakit.
Kapan itu?
Saya lupa. Saya tak ingat sakit apa juga. Anda mampu menghadirkan karakter pasien begitu kuat di novel itu.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Oh, ya? Saya membayangkan menjadi tokoh-tokoh yang saya ciptakan dalam novel saya. Seperti dalam The English Patient, yang bercerita tentang orang yang sakit di tempat tidur. Ya, saya membayangkan saja seperti apa perasaannya karena terbaring terus di tempat tidur, apa yang dirasakannya, bagian tubuh mana yang sakit, pegalnya seperti apa, lalu saya mengkhayalkan siapa sih dia, latar belakangnya apa hingga ia bertindak, merintih kesakitan, mengumpat dalam putus asa, dan lain sebagainya.
Dalam novel itu Anda hampir seperti dokter?
Ha ha ha. Thank you very much. Saya mencoba menuangkan perasaan pasien, putus ada, perasaan mengetahui dirinya akan mati, sakit.
Bagaimana Anda menggali atau menciptakan sebuah karakter dalam buku yang akan ditulis?
Sebagai penulis, saya mengamati banyak hal. Saya menyelami dengan berobservasi di lingkungan. Tapi, pada intinya saya mengandaikan diri saya seperti si tokoh. Keadaan, lingkungan dia hidup, sifat dan watak apa yang sekiranya akan muncul dari lingkungan itu dan lain sebagainya.
Ketika kita menulis sesuatu, menemukan sebuah karakter menarik, kita akan dengan otomatis menemukan bangunan struktur cerita dan kita bebas memainkannya dalam alur yang kita kehendaki. Saya kira itu sebuah proses yang pasti dilalui juga oleh setiap penulis, meskipun mungkin ada perbedaan. Saya tidak suka menciptakan karakter yang sama terus menerus. Saya suka menciptakan karakter yang baru, menarik.
Itu sebuah tantangan. Saya berusaha untuk tidak menutup karakter saya sebagai sesuatu yang mengikat. Melainkan selalu terbuka, seperti berpintu dan berjendela. Itu akan memberikan kesempatan kepada saya dan juga pembaca untuk bermain- main dengan karakter tokoh.
Buku anda telah difilmkan?
Oh ya. Saya senang sekali. Itu pengalaman baru.
Anda puas?
Lumayan. Ha ha ha. Akan ada selalu perubahan dan perbedaan ketika menerjemahkan bahasa tulisan ke dalam seluloid. Sebuah novel tidak bisa diadaptasi begitu saja ke film tanpa perubahan di sana-sini. Sebab, dunia tulisan berbeda dengan film, visualisasinya berbeda. Saya kira saya puas.
Ketika mendapati perbedaan dan perubahan itu, apa yang pertama dilakukan?
Merenung. Saya lalu sadar, oh, memang berbeda. Tapi, itu tidak mengubah substansi, jadi saya baik-baik saja. Jadi, saya pun tidak melakukan apa-apa.
Buku-buku Anda kebanyakan mengambil latar belakang Sri Lanka. Mengapa?
Karena saya dilahirkan di sana. Saya tahu seperti apa negara kelahiran saya itu. Saya melaluinya dan tumbuh bersama Sri Lanka. Ia kenangan masa kecil saya. Saya tumbuh bersamanya. Jadi saya merasa bernostalgia. Saya suka menulis tentang Sri Lanka.
Menurut Anda apa yang menarik dari Sri Lanka?
Ketika orang menyebut Sri Lanka, bayangan saya adalah my big family saya di sana. Nenek saya, kakek dan juga saudara yang lainnya. Sri Lanka buat saya, ya, tanah kelahiran. Sedangkan Kanada adalah tempat saya berkarya. Bagaimanapun orang tak akan bisa melupakan tanah tumpah darah, bagaimanapun keadaannya.
Bagaimana Anda tumbuh sampai menjadi seorang penulis?
I don’t remember, ha ha ha. Orang tua saya bercerai di Sri Lanka, ada keluarga besar, paman, bibi, kakek, nenek. Jadi, saya tak hidup seperti di Bronx. Hingga kerusakan mental saya kira tak terjadi. Tapi, bagaimana saya tumbuh, saya tak tahu. Begitu banyak identitas di Srilangka, Budha, Islam, dan lain-lainnya mungkin China.
Anda termasuk yang mana?
Saya Sri Lanka. Tak pernah saya mengelompokkan diri saya ke kelompok tertentu. Itu sebuah keindahan. Memang banyak sekali buku- buku saya yang berlatar belakang negeri itu. Keluarga saya sesungguhnya berasal dari India yang bermigrasi ke India, mungkin pada abad ke-16. Mereka beranakpinak dengan berbagai bangsa, Belanda, India, penduduk setempat.
Bagaimana dengan Bali?
Saya suka sekali. Saya tak pernah mengunjungi tempat di mana saya ingin tinggal lebih lama dari tiga hari. Saya kerasan di sini. Saya tak percaya Bali bisa digambarkan hanya dalam waktu singkat. Bali begitu indah. Saya sangat exciting dengan Bali.
Dalam In The Skin of a Lion, banyak orang menganggapnya sebagai teks pasca-kolonialisme. Menurut Anda?
Saya tak pernah bermaksud menulis novel dengan tujuan genre tertentu. Silakan saja orang berpendapat demikian. Yang ingin saya tulis adalah sebuah komunitas tertentu yang kebetulan memang kehidupan kaum marginal di Kanada. Itu saja. Buat saya itu cuma cerita tentang 5 orang yang menarik saya untuk saya tuangkan sebagai novel.
Anda sedang menulis buku sekarang?
Ya, saya sekarang sedang menulis sebuah buku. Saya juga senang menulis puisi. Tapi lebih bisa bereksplorasi dalam novel.
Jenisnya?
Novel. Tapi kalau kamu bertanya tema, ceritanya, tokoh-tokohnya, saya tak mau jawab. Ha ha ha . It’s still secret.
Buku apa saja yang biasa Anda baca?
Semua buku. Novel. Saya juga senang membaca karya orang lain, menambah pengayaan. Saya suka baca John Steinbeck, penulis Mesir seperti Najib Mahfudz.
Bagaimana dengan penulis Indonesia?
Saya tak begitu kenal, mungkin karena masih sedikit yang menerjemahkan karya penulis Indonesia. Saya juga tak bisa bahasa Indonesia.
Buku favorit Anda?
Saya tak punya yang favorit. Semua saya baca. Tapi fiksi yang sureal lebih menarik minat saya. Mengapa? di sana saya bisa membayangkan bagaimana penulisnya berimajinasi, melambung dan bisa juga menukik.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzieb
A. Azis Masyhuri
A. Dahana
A. Mustofa Bisri
A. Muttaqin
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S Laksana
Aan Frimadona Roza
Aang Fatihul Islam
Abd. Rahman Mawazi
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurrahman Wahid
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adhy Rical
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adin
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afnan Malay
AG. Alif
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan MN
Agung Poku
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus Himawan
Agus R. Subagyo
Agus Salim
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Naufel
Ahmad Sahal
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Alang Khoiruddin
Alex R Nainggolan
Alfred Tuname
Ali Irwanto
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alvi Puspita
Amandus Klau
Amel
Amien Kamil
Anam Rahus
Andaru Ratnasari
Andong Buku #3
Angela
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Ari Pahala Hutabarat
Arie MP Tamba
Arif Bagus Prasetyo
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Juanda
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Astrid Reza
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Awan Abdullah
Ayi Jufridar
Azyumardi Azra
B Sugiharto
Badrut Tamam
Bagja Hidayat
Bahrul Ulum A. Malik
Bakdi Soemanto
Balada
Bambang kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Baskara T Wardaya SJ
Bayu Agustari Adha
Bayu Ambuari
Beni Setia
Benny Arnas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Berto Tukan
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonnie Triyana
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiarto Shambazy
Buldanul Khuri
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chandra Iswinarno
Cover Buku
D. Zawawi Imron
Dadan Sutisna
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danang Probotanoyo
Danarto
Daniel Paranamesa
Dareen Tatour
Darju Prasetya
Darma Putra
Darwis Rifai Harahap
Dayat Hidayat
Dede Kurniawan
Deepe
Denny JA
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dhewi Susanti
Dian Hartati
Diana AV Sasa
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djunaedi Tjunti Agus
Doan Widhiandono
Doddy Hidayatullah
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Dr Junaidi
Dr. Simuh
Dwi Cipta
Dwi Pranoto
Dwi Wahyu Handayani
Dwicipta
Dyah Ratna Meta Novi
Edeng Syamsul Ma’arif
Eduard Tambunan
Edy Firmansyah
Edy Sartimin
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Endhiq Anang P
Endi Biaro
Esai
Eva Dwi Kurniawan
Evan Ys
Evi Idawati
Evieta Fajar
F Rahardi
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faisal Syahreza
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatmin Prihatin Malau
Fauzan Al-Anzhari
Fenny Aprilia
Festival Gugur Gunung
Fikri. MS
Firdaus Muhammad
Fransiskus Nesten Marbun ST
Franz Kafka
Free Hearty
Furqon Abdi
Gde Artawan
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunoto Saparie
Gus Noy
H. Rosihan Anwar
Hadi Napster
Halim HD
Hamdy Salad
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasanudin Abdurakhman
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hastho Suprapto
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendra Sugiantoro
Hendriyo Widi
Henry H Loupias
Heri CS
Heri Latief
Herman Hasyim
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Hesma Eryani
Hikmat Gumelar
Hilyatul Auliya
Hudan Hidayat
Hujuala Rika Ayu
Humam S Chudori
I Nyoman Suaka
I Nyoman Tingkat
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idha Saraswati
Idris Pasaribu
Igk Tribana
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Q. Moehiddin
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian koto
Inggit Putria Marga
Irman Syah
Isbedy Stiawan ZS
Ismi Wahid
Istiqomatul Hayati
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Komindo
Iwan Kurniawan
J. Sumardianta
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jenny Ang
Jihan Fauziah
Jimmy Maruli Alfian
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf A.N
Kalis Mardi Asih
Karkono
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Khawas Auskarni
Khoirur Rizal Umami
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kusno
Kuswaidi Syafi’ie
L.N. Idayanie
Laksmi Pamuntja
Lan Fang
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lies Susilowati
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
LP3M Universitas Jember
Lukman Asya
Lutfi Mardiansyah
M Arman AZ
M Hari Atmoko
M. Dhani Suheri
M. Faizi
M. Haninul Fuad
M. Ikhsan
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marlin Bato
Martin Aleida
Marwanto
Maryati
Mas Ruscitadewi
Mashuri
Maya Azeezah
Media: Crayon on Paper
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Menggalang Dana Amal
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Mestika Zed
Michael Gunadi Widjaja
Michael Ondaatje
Mihar Harahap
Mikhael Dua
Mila Novita
Misbahus Surur
Misranto
Moch. Faisol
Moh. Asy'ari Muthhar
Muh Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Farhand Muzakki
Muhammad Ghufron
Muhammad Hidayat
Muhammad Marzuki
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammad Yulius
Muhammadun A.S.
Muhibin AM
Muhidin M Dahlan
Mulyadi SA
Munawir Aziz
Mursai Esten
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nanang Fahrudin
Nanang Suryadi
Naskah Monolog
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nissa Rengganis
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Novelet
Novianti Setuningsih
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nunung Nurdiah
Nunuy Nurhayati
Nur Ahmad Salman H
Nur Cholish Zaein
Nur Faizah
Nur Hidayati
Nuraz Aji
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurul Anam
Nuryana Asmaudi SA
Ode Barta Ananda
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pameran Lukisan
Pamusuk Eneste
Pandu Radea
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Priyambodo RH
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Puji Santosa
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Dachroni
R. Timur Budi Raja
Rachmat H Cahyono
Radhar Panca Dahana
Rahmi Hattani
Rainer Maria Rilke
Rakai
Rakhmat Giryadi
Rama Prabu
Ramadhan Batubara
Rambuana
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Rida Wahyuningrum
Ridwan Munawwar
Rilla Nugraheni
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rosdiansyah
Rosidi
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rz. Subagyo
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Saripuddin Lubis
Sastra Pemberontak
SastraNESIA
Sastri Bakry
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selo Soemardjan
Senggrutu Singomenggolo
Seni Rupa
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Si Burung Merak
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Sjaiful Masri
Sjifa Amori
SLG STKIP PGRI Ponorogo
Soeharto
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Fitri Ana
Sri Wintala Achmad
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sugeng Satya Dharma
Sujiwo Tejo
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Suseno
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutirman Eka Ardhana
Suwandi Adisuroso
Suyadi San
Switzy Sabandar
Syah A. Lathief
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syifa Aulia
Sylvianita Widyawati
Tamrin Bey
Tan Malaka
TanahmeraH ArtSpace
Taofik Hidayat
Taufik Alwie
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh LR
Teguh Pamungkas
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Timur Sinar Suprabana
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Tosa Poetra
Toto Gutomo
Tri Wahono
Triyanto triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Ulfatin Ch
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Utami Widowati
Veven Sp. Wardhana
W Haryanto
W.S. Rendra
Wandi Barboy Silaban
Wanitaku-wanitaku
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Wayan Supartha
Wendi
Wildan Nugraha
Wishnubroto Widarso
Wong Wing King
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanto le Honzo
Yasraf Amir Piliang
Yeni Mulyani
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yuli Akhmada
Yulia Sapthiani
Yuliarsa
Yunanto Sutyastomo
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar