Kamis, 01 Maret 2012

Kota Garut termasuk Kota Bahasa dan Sastra Sunda

Muhammad Farhand Muzakki
http://fikiranfarhand.blogspot.com/

BAHASA dan sastra Sunda ternyata perlu dikampanyekan terus. Termasuk di Garut, sebuah kota Tatar Priangan. Bahasa Sunda Priangan yang dijadikan bahasa lulugu (baku), dan digunakan secara luas oleh orang Sunda, serta dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah. Selain bahasa Sunda lulugu, juga terdapat bahasa Sunda wewengkon (dialek setempat), seperti bahasa Sunda Banten, Cirebon, Bogor, dan daerah-daerah perbatasan dengan wilayah lain yang juga punya bahasa daerah tersendiri. Mengapa Garut sebagai kawasan bahasa Sunda lulugu harus menjadi ajang “kampanye” bahasa Sunda?

Godi Suwarna, Hantu, dan Sastra Sunda

Soni Farid Maulana
http://cangra.multiply.com/

Aya manuk ngagarapak dina hate
Luncat kana dahan ngarangrangan
Nu kasampak bulan tinggal bangkarakna
Bangkar dirurub ku indungpeuting

EMPAT larik puisi di atas dipetik dari puisi Maskumambang karya sastrawan Sunda Godi Suwarna. Puisi yang secara keseluruhan menggambarkan kegelisahan sang penyair yang dibayang-bayangi oleh maut itu, terdapat dalam kumpulan puisi tunggal Godi Suwarna yang pertama, yang diberi judul Jagat Alit.

Bahasa Sunda dari Kongres ke Kongres

Dadan Sutisna
Pikiran Rakyat, 26 Juni 2011

DI antara bahasa-bahasa ibu di Indonesia, bahasa Sunda paling sering dikongreskan. Bahkan, intensitasnya akan menyamai Kongres Bahasa Indonesia, karena sama-sama diselenggarakan sembilan kali. Bahasa lain yang kerap mengadakan kongres adalah bahasa Jawa (lima kali) dan bahasa Bali (lima kali).

Korupsi dalam Sastra Sunda

Djasepudin *
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009

“Rék leutik rék gedé korupsi mah sarua baé dosana. Nu matak mun rék korupsi tong kagok-kagok, héhéhé…”

MAU kecil mau besar korupsi tetap sama dosanya. Maka, jika hendak korupsi jangan tanggung, he..he..he.. (Teten Masduki, Lalayang Girimukti/V/Agustus-Oktober 2002)

Senin, 27 Februari 2012

Menyegarkan Kembali Sikap Islam

* Beberapa Kesalahan Ulil Abshar Abdalla
A. Mustofa Bisri
Kompas, 04 Des 2002

KETIKA harian Kompas (18/11/2002) menurunkan tulisan Ulil Abshar Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, saya menduga bakal muncul banyak reaksi. Benar. HP saya dibanjiri komentar reaktif beberapa orang atas artikel itu. Semuanya bernada "mempertanyakan".

Pengikut