Triyanto Triwikromo
http://www.suaramerdeka.com/
Bencana -sepanjang 2006- agaknya menjadi hantu yang menebarkan rasa takut kepada siapa pun di negeri ini. Pada 27 Mei, misalnya, gempa berkekuatan 5,9 skala Richter telah membuat berbagai tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta luluh lantak.
Rumah-rumah dan gedung-gedung perkantoran roboh. Penduduk kalang kabut. Sebagian meninggal. Sebagian bertahan meneruskan kehidupan dalam kesedihan.
Air mata belum mengering, pada 28 Mei, lumpur panas disertai gas beracun menyembur di dekat sumur gas milik PT Lapindo Brantas Inc di Desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo. Lumpur menggenangi permukiman penduduk, sawah, ladang, kawasan industri, dan jalan tol. Diduga hal ini terjadi karena Lapindo abai memasang selubung bor (casing) yang harusnya dipasang pada kedalaman 8.500 kaki atau sekitar 2.590 meter, di bawah permukaan tanah. Casing ini berfungsi untuk mengantisipasi potensi kemenghilangan sirkulasi lumpur dan tendangan balik yang memuntahkan lumpur ke atas.
Bukan hanya itu. Pada 20 November angin ribut menghajar Desa Kauman Kecamatan Kemusu, Boyolali. Ada yang terluka, 14 rumah dan sekolah roboh, serta 327 rumah rusak ringan. Malah pada hari sama di Kecamatan Sumberlawang, Sragen, 4 rumah roboh. Sebelumnya, mulai Januari, angin ribut juga menumbangkan berbagai sendi kehidupan di Jawa Tengah.
Tentu di luar itu kerusuhan di Poso sejak 9 Januari saat bom meledak di depan pintu gerbang Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Sion Poso hingga 29 September ketika ratusan orang menyerang Markas Polsek Pamona Timur, serta 16 Oktober saat pejabat Ketua Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Pendeta Irianto Kongkoli tewas, terus saja melukai rasa keamanan dan ketenteraman warga.
Bencana Lain
Itu hanya sedikit contoh dari bencana-bencana yang bersifat fisik. Menurut pendapat Sutanto, budayawan dari Mendut, Magelang, bencana lain yang kita alami lebih dahsyat lagi.
Ada bencana moral -semisal kasus Yahya Zaini dan Maria Eva, Aa Gym, Lidya Pratiwi, atau Alda- yang belum terpecahkan penyelesaiannya. Ada bencana sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang racunnya telah menebar sebagai virus. Ada juga penghinaan terhadap perempuan dan keperempuanan yang tak kunjung henti.
''Yang tampil ke permukaan hanya sekelumit. Yang tersembunyi dan menimbulkan persoalan lebih dahsyat justru belum kita pahami daya ledaknya,'' jelas komposer yang bakal tampil sebagai pembicara dalam Asia Pasific Festival and Conference Februari mendatang itu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Butet Kartaredjasa. Menurut pendapat komedian asal Yogyakarta itu, serangan gaya hidup konsumtif dan kapitalisme global yang melanda kehidupan masyarakat janganlah sekali-kali tidak dianggap sebagai bencana. ''Bencana semacam itu -yang kini antara lain mewujud dalam pendirian berbagai mal di Yogyakarta- akan mengubah gaya hidup masyarakat. Bahkan kian banyak televisi yang menebarkan tayangan yang mendangkalkan kemanusiaan, saya kira merupakan bencana yang sulit dihentikan juga,'' kata dia.
Karena itu, Sutanto mengingatkan, hendaknya ada cara baru memandang bencana. ''Ketiadaan kata untuk menerjemahkan tsunami, misalnya, itu membuktikan betapa kita tidak dididik untuk memahami dan mengatasi bencana secara benar,'' jelas seniman nyentrik yang bakal mempresentasikan makalah bertajuk ''The Wild Dream of Mountain Community Art'' di Selandia Baru itu.
Bencana, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan. Bencana tak pernah bisa otonom dari kebudayaan. Begitu juga sebaliknya. Butet menandaskan, ''Bencana tidak bisa menafikan kebudayaan atau kesenian. Ia justru melahirkan ekspresi komunal baru, mengubah orientasi berkebudayaan, sehingga orang tidak melulu berpaku peye atau payu. Bencana justru membuat seniman mengelaborasi musibah menjadi kebudayaan.''
Tindakan Konkret
Lalu tindakan-tindakan kebudayan apa saja yang dilakukan para budayawan ketika menghadapi bencana yang dahsyat? Ada tindakan-tindakan yang masih menggunakan jalan kesenian sebagai cara untuk mengatasi bencana. Dalang Slamet Gundono, misalnya, bersama penyair Sosiawan Leak dan penari Mugiyono mengadakan pementasan di Jakarta. Hasil pementasan itu -juga beras dan tenda- mereka sumbangkan kepada korban gempa. ''Itu hanya berjalan tiga sampai empat minggu. Setelah itu, kami kembali ke jalan seni masing-masing.''
Gundono, misalnya, kemudian membuat wayang air, yakni wayang yang mengeksplorasi segala yang berkaitan dengan air. ''Ini semacam seni yang bersandar pada pergaulan manusia dengan lingkungan. Dalam situasi bencana semacam ini -saat orang kesulitan mendapatkan air sehat- seniman harus tak lagi asyik-masyuk hanya dengan estetika,'' kata dalang yang mendukung kesuksesan film Opera Jawa karya sutradara Garin Nugroho itu.
Bukan hanya itu. Tindakan-tindakan estetis Gundana ternyata juga disertai dengan berbagai upaya konkret untuk menyelamatkan lingkungan dan wong cilik. ''Saya sedang berusaha mengajak siapa pun untuk membangun sumur resapan untuk wong cilik. Ini sebuah situasi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Pada 2007 seniman atau budayawan harus lebih peduli pada publik. Estetika sebaiknya menghidupkan kehidupan. Jangan jauh-jauh dari derita masyarakat.''
Tindakan sama juga dilakukan oleh Butet, pemusik Djaduk, perupa Agus Suwage, atau Teater Garasi. Mereka -dengan cara masing-masing- selain memberikan bantuan kepada para korban gempa, juga kian menghidupkan kesenian dan kebudayaan sebagai cara pandang mengatasi bencana fisik maupun psikis yang tak henti-henti mendera bangsa ini. ''Hasil pentas-pentas amal yang telah saya lakukan bersama teman-teman telah digunakan untuk membangun semangat berkesenian yang lumpuh akibat segala fasilitas dihancurkan oleh gempa. Pak Dalang Timbul bisa mendapatkan gong perunggu kembali, seniman lain bisa mendapat fasilitas yang lain. Penyelamatan semacam ini juga tak kalah penting daripada penyelamatam fisik terhadap orang-orang yang dihantam bencana,'' kata Butet.
Melangkah Lagi
Kini satu demi satu bencana dapat dilalui. Kehidupan harus terus berjalan. Bekal apa yang harus dijinjing untuk menghadapi warna kehidupan 2007 yang belum bisa ditebak gelap terangnya? ''Kita agaknya harus mengadakan ruwatan budaya yang melibatkan wong cilik. Ruwatan itu sebaiknya bisa digunakan bangsa ini sebagai penghiburan, penyadaran diri, dan pengeling-eling. Ruwatan itu harus meyakinkan kita betapa kebangkitan dari keterpurukan tak bisa ditawar-tawar lagi,'' ajak novelis dari Banyumas, Ahmad Tohari.
Langkah lain ditawarkan oleh kiai-sastrawan nyentrik dari Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri. Kata dia, ''Kita sebaiknya melakukan tobat nasional. Semua melakukan introspeksi, mencari kesalahan-kesalahan sendiri, lalu berusaha memperbaiki dan berjanji tidak mengulangi. Kesalahan-kesalahan bersama diperbaiki bersama. Ini semua harus dilakukan dengan mendekat dan memohon kepada Sang Penguasa Tunggal.''
Selain itu, tandas Bisri, jangan lagi menggunakan politik (pada zaman Orde Lama) dan ekonomi (pada zaman Orde Baru) sebagai panglima untuk mengatasi berbagai persoalan yang mendera bangsa. ''Mengapa tidak mencoba budaya sebagai panglima?''
Ya, dengan bersandar pada ''kepemimpinan'' kebudayaan, bangsa ini akan bisa segera bebas dari keterpurukan. Hanya, Sutanto, mengingatkan, ''Jika kita tetap tak mau belajar apa-apa dari bencana, apa pun tindakan kita hanya akan menjadi kekacauan baru. Sayang, saya melihat kita memang tidak belajar apa-apa dari bencana.''
Tidak adakah jalan keluar? ''Selamatkan kebudayaan berpikir. Jangan mau dijejali hal-hal yang mendangkalkan pikiran dan menghilangkan tindakan-tindakan besar kemanusiaan. Itu solusinya,'' kata Sutanto menutup perbincangan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzieb
A. Azis Masyhuri
A. Dahana
A. Mustofa Bisri
A. Muttaqin
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S Laksana
Aan Frimadona Roza
Aang Fatihul Islam
Abd. Rahman Mawazi
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurrahman Wahid
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Achmad Sunjayadi
Adek Alwi
Adhy Rical
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adin
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afnan Malay
AG. Alif
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan MN
Agung Poku
Agus Aris Munandar
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus Himawan
Agus R. Subagyo
Agus Salim
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Naufel
Ahmad Sahal
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Alang Khoiruddin
Alex R Nainggolan
Alfred Tuname
Ali Irwanto
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alvi Puspita
Amandus Klau
Amel
Amien Kamil
Anam Rahus
Andaru Ratnasari
Andong Buku #3
Angela
Anggraini Lubis
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurnia
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Ari Pahala Hutabarat
Arie MP Tamba
Arif Bagus Prasetyo
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Juanda
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Astrid Reza
Atmakusumah
Awalludin GD Mualif
Awan Abdullah
Ayi Jufridar
Azyumardi Azra
B Sugiharto
Badrut Tamam
Bagja Hidayat
Bahrul Ulum A. Malik
Bakdi Soemanto
Balada
Bambang kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Baskara T Wardaya SJ
Bayu Agustari Adha
Bayu Ambuari
Beni Setia
Benny Arnas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Berto Tukan
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonnie Triyana
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiarto Shambazy
Buldanul Khuri
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chandra Iswinarno
Cover Buku
D. Zawawi Imron
Dadan Sutisna
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Damanhuri
Damar Juniarto
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danang Probotanoyo
Danarto
Daniel Paranamesa
Dareen Tatour
Darju Prasetya
Darma Putra
Darwis Rifai Harahap
Dayat Hidayat
Dede Kurniawan
Deepe
Denny JA
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dhewi Susanti
Dian Hartati
Diana AV Sasa
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djunaedi Tjunti Agus
Doan Widhiandono
Doddy Hidayatullah
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Dr Junaidi
Dr. Simuh
Dwi Cipta
Dwi Pranoto
Dwi Wahyu Handayani
Dwicipta
Dyah Ratna Meta Novi
Edeng Syamsul Ma’arif
Eduard Tambunan
Edy Firmansyah
Edy Sartimin
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Endhiq Anang P
Endi Biaro
Esai
Eva Dwi Kurniawan
Evan Ys
Evi Idawati
Evieta Fajar
F Rahardi
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faisal Syahreza
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fatmin Prihatin Malau
Fauzan Al-Anzhari
Fenny Aprilia
Festival Gugur Gunung
Fikri. MS
Firdaus Muhammad
Fransiskus Nesten Marbun ST
Franz Kafka
Free Hearty
Furqon Abdi
Gde Artawan
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunoto Saparie
Gus Noy
H. Rosihan Anwar
Hadi Napster
Halim HD
Hamdy Salad
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasanudin Abdurakhman
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hastho Suprapto
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Hendra Sugiantoro
Hendriyo Widi
Henry H Loupias
Heri CS
Heri Latief
Herman Hasyim
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Hesma Eryani
Hikmat Gumelar
Hilyatul Auliya
Hudan Hidayat
Hujuala Rika Ayu
Humam S Chudori
I Nyoman Suaka
I Nyoman Tingkat
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idha Saraswati
Idris Pasaribu
Igk Tribana
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Q. Moehiddin
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian koto
Inggit Putria Marga
Irman Syah
Isbedy Stiawan ZS
Ismi Wahid
Istiqomatul Hayati
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Komindo
Iwan Kurniawan
J. Sumardianta
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jenny Ang
Jihan Fauziah
Jimmy Maruli Alfian
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf A.N
Kalis Mardi Asih
Karkono
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kenedi Nurhan
Khawas Auskarni
Khoirur Rizal Umami
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kusno
Kuswaidi Syafi’ie
L.N. Idayanie
Laksmi Pamuntja
Lan Fang
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lies Susilowati
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
LP3M Universitas Jember
Lukman Asya
Lutfi Mardiansyah
M Arman AZ
M Hari Atmoko
M. Dhani Suheri
M. Faizi
M. Haninul Fuad
M. Ikhsan
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marlin Bato
Martin Aleida
Marwanto
Maryati
Mas Ruscitadewi
Mashuri
Maya Azeezah
Media: Crayon on Paper
Melani Budianta
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Menggalang Dana Amal
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Mestika Zed
Michael Gunadi Widjaja
Michael Ondaatje
Mihar Harahap
Mikhael Dua
Mila Novita
Misbahus Surur
Misranto
Moch. Faisol
Moh. Asy'ari Muthhar
Muh Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Farhand Muzakki
Muhammad Ghufron
Muhammad Hidayat
Muhammad Marzuki
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammad Yulius
Muhammadun A.S.
Muhibin AM
Muhidin M Dahlan
Mulyadi SA
Munawir Aziz
Mursai Esten
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Muslim Kasim
Musyafak
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nanang Fahrudin
Nanang Suryadi
Naskah Monolog
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nissa Rengganis
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel
Novelet
Novianti Setuningsih
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nunung Nurdiah
Nunuy Nurhayati
Nur Ahmad Salman H
Nur Cholish Zaein
Nur Faizah
Nur Hidayati
Nuraz Aji
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurul Anam
Nuryana Asmaudi SA
Ode Barta Ananda
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pameran Lukisan
Pamusuk Eneste
Pandu Radea
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Priyambodo RH
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Puji Santosa
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Dachroni
R. Timur Budi Raja
Rachmat H Cahyono
Radhar Panca Dahana
Rahmi Hattani
Rainer Maria Rilke
Rakai
Rakhmat Giryadi
Rama Prabu
Ramadhan Batubara
Rambuana
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Rida Wahyuningrum
Ridwan Munawwar
Rilla Nugraheni
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rosdiansyah
Rosidi
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rz. Subagyo
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Saripuddin Lubis
Sastra Pemberontak
SastraNESIA
Sastri Bakry
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selo Soemardjan
Senggrutu Singomenggolo
Seni Rupa
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Si Burung Merak
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Siwi Dwi Saputro
Sjaiful Masri
Sjifa Amori
SLG STKIP PGRI Ponorogo
Soeharto
Sofian Dwi
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Sri Fitri Ana
Sri Wintala Achmad
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sugeng Satya Dharma
Sujiwo Tejo
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Suseno
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutirman Eka Ardhana
Suwandi Adisuroso
Suyadi San
Switzy Sabandar
Syah A. Lathief
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syifa Aulia
Sylvianita Widyawati
Tamrin Bey
Tan Malaka
TanahmeraH ArtSpace
Taofik Hidayat
Taufik Alwie
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh LR
Teguh Pamungkas
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Timur Sinar Suprabana
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Tosa Poetra
Toto Gutomo
Tri Wahono
Triyanto triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Ulfatin Ch
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi Ballah
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Utami Widowati
Veven Sp. Wardhana
W Haryanto
W.S. Rendra
Wandi Barboy Silaban
Wanitaku-wanitaku
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Wayan Supartha
Wendi
Wildan Nugraha
Wishnubroto Widarso
Wong Wing King
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanto le Honzo
Yasraf Amir Piliang
Yeni Mulyani
Yesi Devisa
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yuli Akhmada
Yulia Sapthiani
Yuliarsa
Yunanto Sutyastomo
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuval Noah Harari
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar