Langsung ke konten utama

Petualang

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Petualang dan petualangan seringkali kita temukan dalam sajak-sajak lirik. Chairil Anwar mungkin satu di antara penyair Indonesia yang paling banyak mengangkat dunia Sinbad, dunia petulangan dan petualangan. Sebuah sajaknya berjudul Tak Sepadan menyebut Ahasveros: ”kau kawin, beranak dan berbhagia/Sedang aku mengembara serupa Ahasveros”.

Ahasveros adalah seorang Yahudi dalam cerita Injil yang pernah menolak yesus datang ke rumahnya. Oleh Tuhan kemudian oranmg itu dikutuk untuk menjadi petualang abadi, tidak pernah punya tempat tinggal seumur hidupnya. Kisah ini serupa tapi tak sama dengan Odysseus, tokoh dalam legenda Perang Troya yang mengembara tapi akhirnya kembali. Ahasveros justru lebih mirip dengan Abraham yang hijrah untuk selama-lamanya dan tak pernah kembali. Odysseus lebih pas kalau dibandingkan dengan kisah Isra-Mikraj yang ditempuh nabi Muhammad. Kita tahu, walau telah sampai ke puncak pohon lotus pada batas terjauh, Muhammad akhirnya kembali lagi ke bumi sehingga Muhammad Iqbal berkomentar dengan ringan: ”Seandainya saya yang menempuh Isra-Mikraj itu, maka saya tidak akan kembali lagi ke bumi”.

Di negeri ini ada banyak kisah petualang, hijrah dan mikraj. Ada cerita tentang Columbus. Ada cerita tentang para pelaut Bugis dan Mandar yang mengarungi samudera yang ganas. Bahkan ada cerita tentang petualangan yang tak kembali pulang, seperti Ahasveros dan Abraham.

Columbus bertualang di samudera luas karena menemukan kapal. Dan kita bertanya: apa yang istimewa dari cerita Columbus itu? Tanpa Columbus mungkin kita akan tetap bisa berlayar bersama kapal di laut yang luas, kelak, entah kapan. Tapi Columbus telah menemukan jalur perjalanan lewat laut dengan menggunakan kapal yang bahkan belum terbayangkan pada zamannya.

Mungkin karena hidup adalah petualangan di sebuah dunia maritim dengan 17.00 pulaunya, di Indonesia nama Columbus menjadi bagian orang ramai. Sebenarnya cerita tentang petualangan atau arung, tak cuma cerita tentang Columbus. Kita pernah mendengar juga kisah tentang Laksamana Cheng Ho, Marcopolo, Ibnu Batutah, Tome Pires, orang-orang Bugis dan Mandar. Mereka semua adalah para pengembara yang berani meninggalkan kampung halaman. Kisah-kisah rantau orang Minang juga bagian dari kisah petualangan: ada yang kembali tapi ada pula yang tak lagi kembali ke tanah asal. Mereka ada yang dikenal, tapi kebanyakan tidak. Mereka semua para petualang yang telah mencatat bagaimana dunia dibentuk dan perjalanan punya batas dan selesai atau tidak pernah selesai.

Nenek moyang kita—orang pelaut kata orang—adalah para petualang yang telah menjelajah separuh dunia. Orang-orang Bugis atau Bajau adalah para pelaut yang jadi legenda dalam kejayaan Maritim, karena mereka terbiasa mengarungi samudera dan menjelajah bidang-bidang liputan, yang kadang harus mempertaruhkan nyawa, tapi kita tetap saja menyanyikan lagu heroik ”Nenek-moyangku, orang pelaut…” itu.

Mereka mengarung laut yang ganas. Kemudian ada yang mati ditelan ganasnya ombak, tanpa jejak dan makam. Apakah yang mereka tinggalkan untuk kita? Bukan gelar laksamana, bukan pejuang, tapi petualang. Ya, mereka hanya petualang lepas dari kamera dan pena kita. Mungkin juga, sejenis Sinbad dalam sajak-sajak Adonis (Ali Ahmad Said).
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Jawa Timur